13 Ciri Investor

 13 Ciri Umum Value Investor


Apakah yang dimaksud dengan "value investing"? Pada dasarnya value investing berarti membeli saham perusahaan dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah nilai intrinsik perusahaan itu. Itu adalah prinsip paling umum dan paling mendasar yang disepakati oleh semua value investor. Walaupun mereka memiliki pendekatan dan strategi yang berbeda-beda, mereka semua sepakat dalam prinsip itu.


Selain prinsip dasar itu, dalam bukunya "The Art of Value Investing: How the World's Best Investors Beat the Market", John Heins dan Whitney Tilson menyatakan bahwa pada umumnya para value investor memiliki kesamaan dalam 13 karakteristik berikut ini:


1. Mereka berfokus pada nilai intrinsik, yaitu nilai perusahaan yang sesungguhnya. Mereka tidak peduli pada pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Bagi mereka, yang terpenting adalah seberapa lebar margin of safety yang tersedia. Mereka akan membeli suatu saham hanya apabila mereka benar-benar yakin bahwa ada margin of safety yang lebar antara harga saham dengan nilai intrinsik perusahaan itu. Lalu, mereka akan menjualnya bila harga sahamnya telah mencapai atau melebihi nilai intrinsiknya, sehingga tak ada lagi margin of safety pada saham itu.


2. Mereka memiliki konsep yang jelas tentang cara mendapatkan gagasan investasi, sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki dan kesempatan yang tersedia. Dengan kata lain, mereka mengenali lingkaran kompetensi mereka dengan baik. Mereka tidak peduli pada peluang investasi yang berada di luar lingkaran kompetensi mereka. Namun, saat ada peluang investasi yang sesuai dengan lingkaran kompetensi mereka, mereka akan memanfaatkannya sebaik mungkin.


3. Mereka mendasarkan keputusan investasi mereka pada riset dan analisis fundamental yang mendalam. Mereka tidak peduli pada berita, pendapat, ataupun rekomendasi saham yang diberikan orang lain. Mereka akan membeli suatu saham hanya apabila mereka telah mengerjakan riset dan analisis yang mendalam atas saham itu.


4. Saat melakukan riset, mereka biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menganalisa faktor-faktor mikro, seperti keunggulan kompetitif perusahaan dan prospek pertumbuhannya, daripada mencoba memprediksi faktor-faktor makro, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat suku bunga, dan harga komoditas.


5. Mereka umumnya menganut konsep "mean reversion", bahwa siklus bisnis dan kinerja perusahaan seringkali bergerak seperti pendulum dan akan kembali ke rata-ratanya. Ini adalah konsep yang lebih konservatif daripada berasumsi bahwa kinerja yang bagus pada masa lalu akan terus berlanjut ke masa depan yang tak terbatas.


6. Mereka biasanya bersikap kontrarian, di mana mereka membeli saham yang tidak populer dan tidak disukai oleh banyak orang. Namun, hal ini hanya akan mereka lakukan bila mereka mampu menarik kesimpulan yang bagus, yang bertentangan dengan pandangan umum, dalam riset dan analisa yang mereka lakukan.


7. Mereka berorientasi jangka panjang. Riset, analisis, dan investasi mereka, semuanya dimaksudkan untuk jangka waktu bertahun-tahun, bukan hanya beberapa bulan atau beberapa kuartal ke depan saja.


8. Mereka menyadari bahwa gagasan dan peluang investasi yang benar-benar hebat adalah hal yang langka dan jarang terjadi. Karena itu, saat gagasan dan peluang hebat itu datang, mereka akan memanfaatkannya sebaik mungkin. Hasilnya, portofolio mereka seringkali bersifat terkonsentrasi, di mana portofolio itu hanya berisi lebih sedikit saham, tetapi dengan porsi yang lebih besar.


9. Mereka menyadari bahwa untuk dapat mengalahkan pasar, mereka perlu menyusun portofolio mereka dengan cara yang sangat berbeda daripada pasar, bukan sekedar mengikuti indeks pasar.


10. Mereka lebih berfokus menghindari risiko kerugian permanen daripada risiko volatilitas harga saham. Artinya, mereka lebih peduli pada kelangsungan bisnis perusahaannya daripada pergerakan harga sahamnya. Mereka berusaha memastikan bahwa secara fundamental perusahaannya benar-benar aman dan tidak akan bangkrut. Selama fundamentalnya aman, volatilitas harga saham tak terlalu jadi masalah.


11. Mereka berfokus mendapatkan imbal hasil absolut, bukan sekedar kinerja investasi yang mengungguli pasar. Bagi mereka, yang terpenting bukan apakah kinerja investasi mereka mampu mengalahkan pasar atau tidak, tetapi apakah kinerja investasi mereka mampu memberikan imbal hasil yang mereka targetkan atau tidak.


12. Mereka memandang investasi saham layaknya sebuah perlombaan maraton, di mana penentuan pemenang dan pecundang didasarkan pada hasil kinerja beberapa tahun, bukan hanya kinerja beberapa bulan saja.


13. Saat mereka mengalami kegagalan, mereka tidak akan menyalahkan orang lain atau berdalih bahwa mereka sedang mengalami nasib buruk. Sebaliknya, mereka bersedia mengakui kesalahan mereka dan secara aktif berusaha menarik pelajaran dari kegagalan itu. 


Perlu dipahami bahwa 13 poin di atas merupakan ciri-ciri value investor secara umum. Artinya, ada generalisasi di sana. Pada kenyataannya, para value investor dapat berbeda pendapat dalam beberapa poin dari 13 poin itu.


Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju dengan 13 poin di atas

Post a Comment for "13 Ciri Investor"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel